Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label Zona Kritis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zona Kritis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Januari 2015

Mengobati penyakit "psikologis" dengan Film


Obati dengan Film!
 (Penulis: Akbar Rahmada Maulana )

Tulisan ini pernah diajukan ke Jawa Pos oleh penulis dan berhasil dimuat dengan perubahan oleh editor. Investigasi ini dibantu oleh pengurus Pers Jurnalistik MAN 3 Kediri periode 2012/2013



          Seminggu penuh melakukan aktivitas apakah anda merasa bosan dan tidak bersemangat? Film bisa menjadi solusinya. Banyak genre film yang bisa kita lihat mulai dari Action/ petulangan, komedi, horor, drama percintaan, komedi romantis, science fiction, dan masih banyak lainnya. Tidak ada salahnya kita menyisihkan sebagian uang untuk menonton film. Sebaiknya saat ingin pergi ke bioskop memerhatikan waktu dan kesempatan agar tidak menganggu aktivitas lain. Tidak efektif apabila kita  mengorbankan waktu yang seharusnya produktif bagi kita namun menjadi terbuang sia-sia karena terlalu santai dengan film yang kita tonton.
          Tidak bisa dipungkiri di zaman yang serba mudah, dan canggih, film menjadi media hiburan yang menyenangkan. Dari kuisioner yang telah dibagi, fakta lapangan menunjukan 48,24%  sebagai penyuka film, 48, 24% yang lain menjaab kadang-kadang, sedangkan yang tidak menyukai  film hanya 3,52%, dengan ini kita dapat menyimpulkan penyuka film lebih tinggi dibandingan jumlah yang tidak menyukai film.
         
             Pembuatan film sekarang sudah menggunakan teknologi yang modern, Semakin spektakuler suatu alur cerita dan pemanfaatan teknologi yang digunakan maka akan semakin banyak penggemarnya. Buktinya, kita bisa mengetahui beberapa film yang sukses karena menggunakan alat yang canggih saat pembuatannya, contohnya The Lord of The Rings, Avatar, serta Harry Potter.     Sebagai penonton yang baik kita juga harus selektif saat menonton film, tidak sedikit yang mengandung SARA, menyebarkan fitnah, bahkan menimbulkan kontravensi yang menyebabkan kekacauan. Tidak bijaksana apabila kita nonton film hanya untuk kepuasan belaka. Semua tergantung dari kepribadian masing-masing untuk menentukan film yang akan ditonton, lebih baik menonton yang bisa diambil hikmah atau manfaat untuk di aplikasikan dalam aktivitas sehari hari dari pada hanya sekedar menikmati alur cerita setelah itu hilang tidak berbekas sama sekali.


         
               Nonton juga bisa menjalin persahabatan semakin kokoh, yaitu dengan pergi ke bioskop bersama teman satu kelas, bahkan kita bisa reunian dengan melakukan kegiatan ini. Namun tidak sedikit yang ingin menonton film dirumah dengan cara menyewa ataupun menunggu tayangan di TV. Option terakhir ini, menurut data paling tinggi dilakukan oleh anak-anak remaja (36,67%). Bahkan ada yang mengaku menonton film di rumah karena gratis.  Menurut anda apakah genre film yang paling diminati remaja? Romantis atau komedi? Jika Anda berpikir 2 hal tersebut termasuk yang diminati remaja, namun survey berkata lain. Film action menempati peringkat pertama (25,76%), science fiction ( 14,11%), Horor (12,88%), drama percintaan dan komedi romantis (12,27%).
          Film buatan dalam negeri dengan film luar mempunyai perbedaan, baik dari segi alur cerita, maupun pengembangan konflik. Film asing lebih dominan disukai remaja karena alur cerita yang menantang dan tidak monoton. Sebenarnya kita mempunyai beberapa film produksi dalam negeri yang berkualitas dalam segi nilai moral. Sebut saja Laskar Pelangi, serta Negeri 5 Menara, film berdasarkan novel yang ditulis A. Fuadi. Kesuksesan tersebut diperoleh karena mempunyai nilai moral yang dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukti ini diperkuat dengan fakta lapangan yang menunjukkan (59,09%) alur cerita membuat responden tertarik untuk menonton.
          Gak asyik kalau nonton cuman sendirian, pasti untuk mengobati rasa kesepian diperlukan teman untuk menjadikan suasana lebih ramai. Mayoritas remaja mempunyai kesukaan untuk menonton film rame-rame, sesuai dengan survey (61,72%). Apalagi saat kita nonton bareng denagn genre horor ataupun komedi, pasti saat lihat hantu di genre horor teriaknya kompak, jika mendengar perkataan ataupun perbuatan tokoh di film komedi pasti ketawa bareng-bareng.
          Nonton lebih enak mencari sahabat untuk menemani ataupun keluarga tidaklah masalah. Tidak sedikit dari kita yang banyak mengajak teman saat mau nonton. Presentasenya mencapai 60,22%. Sedangkan yang mengajak kakak/ adik,  dan ibu /ayah, pacar secara berturut turut  sebesar 31,82%, 4,55%, 3,41%.
          Nggak afdhol rasanya jika kita mau nonton tanpa disertai camilan. Banyak camilan yang bisa kita bawa untuk menemani kita nonton, mulai dari popcorn, kripik, cokelat, ataupun kacang. Nonton identik dengan popcorn namun dari data kripik dan kacang (31,12%) mengalahkan ketenaran popcorn (20,43%). Namun selera orang berbeda-beda ada, semua tergantung pilihan kita, yang terpenting dengan camilan tersebut kita bisa menikmati bahkan merasakan masuk dalam alur cerita tersebut.
         
Catatan: Responden terdiri dari murid MAN Kota Kediri 3   
         
         

Selasa, 20 Januari 2015

Abraham Samad, Mari Buka Cabang Baru!



Abraham Samad, Mari Buka Cabang Baru!
(Penulis: Akbar Rahmada Maulana)



Saat pemburu koruptor bertengger di Jakarta, rasanya para tikus masih sering bermain petak umpet dengan aparat pemerintah yang selalu membuat gerah rakyat atas ulah pengutil uang rakyat ini. Ratusan kepala daerah sudah menjadi sergapan pahlawan pencetus “berani jujur itu hebat”, namun gugur satu tumbuh seribu, satu diberantas ternyata induk tikus masih punya ribuan cindil. Memang susah berhadapan dengan pendusta publik yang berlaga artis saat ditangkap KPK (sudah tau korupsi masih aja senyam senyum tanpa dosa dihadapan kamera jurnalis).
            Saya menulis essay ini dengan tujuan memberikan saran kepada pejabat pemerintah untuk serius mencari penyelesaian masalah diatas derita masyarakat yang terus mengeluh karena uangnya sering diambil oleh “tuyul yang duduk dikursi parlemen.” Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan pembuka, Apakah negara kita serius memberantas koruptor? Bagaimana melibatkan masyarakat demi sukses mengurung pencuri uang rakyat? Kapan dan dimana kita bisa memulai?
            Kebijakan sentralisasi masih terasa dalam menumpas kejahatan KKN, Kita bisa melihat kasat mata, gedung KPK ada di Jantung Ibu Pertiwi, sedangkan di daerah lain masih belum ada kantor yang memadai untuk pengaduan dari masyarakat. Bahkan dikota kecil rakyatnya kadang enggan membahas masalah korupsi karena bukan bidangnya. Ironi jika kita tetap mempertahankan semua sikap apatis masyarakat yang menjamur di berbagai daerah. Kita harus bangkit dengan membawa sebuah perubahan yang mendasar dengan mengajak semua lapisan masyarakat dalam membantu pasukan Abraham Samad.


            Kantor KPK  diberbagai daerah 
            Untuk memulai keseriusan dalam menumpas masalah korupsi didaerah, sebaiknya dibangun berbagai gedung atau kantor sederhana di seluruh kota di Indonesia dengan begitu masyarakat akan mudah saat melapor masalah kecurigaan tentang kasus ketidak adilan dalam penyelewengan uang rakyat. Kasus penyalahgunaan ini tidak hanya dialami oleh birokrasi pemerintah namun juga pungutan liar sekolah yang diprogramkan untuk membisnis pendidikan bangsa. Orang tua atau wali bisa dengan mudah mengadu ke kantor KPK terdekat di daerahnya, dan tidak perlu menunggu lama proses pengaduannya dikarenakan harus mengirim berkas ke Jakarta. Kantor dapat di rancang sederhana namun efektif untuk memproses tindakan pidana yang harus segera ditangani. Sehingga wacana pembangunan gedung baru ini tidak memerlukan biaya yang besar untuk setiap daerah.
            Menambah Jaksa disetiap daerah khusus dalam menangani bidang KKN
            Berhadapan dengan penjahat ulung pasti memerlukan jaksa baru untuk menuntaskannya. Lembaga yang dipercaya oleh masyarakat yang mempunyai elektabilitas hampir sempurna ini memerlukan tenaga jaksa yang banyak karena kasus yang dihadapi juga segudang, tentu jika pengusut memadai maka kasus juga cepat tertangani. Dilain sisi, kita tentu tidak perlu khawatir dengan sumber daya manusia. Setiap tahun kita kebanjiran ribuan mahasiswa dari fakultas hukum yang siap untuk mengabdi kepada negara. Tentu ini akan menjadi keuntungan untuk mempekerjakan tenaga kerja berkualitas untuk mengusut segala masalah yang berhubungan dengan penyalahgunaan uang masyarakat. Serta masyarakat mendapatkan kepastian yang jelas dan cepat tentang aduannya.
            Internalisasi pendidikan anti korupsi
            Penguatan pendidikan di jenjang sekolah sangat baik untuk diterapkan baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas. Di jenjang SMA merupakan masa yang baik untuk menanamkan kesadaran ataupun tanggungjawab peserta didik tentang bahayanya korupsi. KPK bisa bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengadakan ektra tentang Organisasi Siswa Pemberantas Korupsi (OSPK). Dengan didukung oleh kantor disetiap daerah maka seluruh siswa yang tergabung dalam organisasi (OSPK) dapat bekerja sama dalam pelatihan mengusut contoh kasus korupsi, yang tentu akan mendapat respon antusias dari siswa.
            Keseriusan dalam menangani masalah KKN bukan hanya dilakukan oleh para pejabat yang berwewenang namun juga mengajak seluruh lapisan masyarakat. Kita bisa memulai dari daerah terdekat jika di daerah dibangun kantor sederhana KPK. Dengan adanya kekuatan pencegahan maupun tindakan represif maka koruptor akan memikir dua kali untuk melakukan tindakan yang dilarang hukum. Semoga negara kita bisa menjadi lebih baik dengan adanya kemauan dari pemerintah dan masyarakat untuk serius memberantas segala usaha mengambil uang rakyat dengan jalan yang tidak terpuji. Desentralisasi pemberantasan korupsi patut kita laksanakan bersama.